Back to Top
ENG | IND
search
MENU

Featured News



World Clean Up Day 2018
World Clean Up Day 2018
17-09-18

World Clean Up Day 2018

Presiden Direktur PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) Erwin Ciputra (Tengah), bersama sejumlah karyawan CAP dan ratusan relawan dari berbagai komunitas peduli lingkungan, mengumpulkan sampah untuk didaur ulang, pada kegiatan World Clean Up Day 2018, di Jakarta, Sabtu (15/11). CAP mendukung kegiatan edukasi untuk meningkatkan pemahaman pentingnya proses reuse, reduce, recycle atau daur ulang sampah sebagai salah satu solusi penanganan sampah di DKI Jakarta yang mencapai 7.000 ton per hari.



Latest News



Barito Pacific: "An Aspiring Petrochemical-based Conglomerate"

31 - 03 - 2009
Barito Pacific: "An Aspiring Petrochemical-based Conglomerate"
31-03-09

Barito Pacific: "An Aspiring Petrochemical-based Conglomerate"

Para capres atau calon perdana menteri manapun di dunia layak iri pada Deng Xiaoping.

Betapa tidak, meski tidak pernah menyandang jabatan Presiden atau Perdana Menteri, tapi tanpa keputusan yang dibuatnya, China yang seperti kita ketahui hari ini tidak akan terjadi. Di bawah kepemimpinannya, sekalipun tidak menjabat Presiden atau Perdana menteri atau bahkan Sekretaris Jendral Partai Komunis China, China secara resmi mulai melakukan modernisasi di tahun 1978 dan membuka diri kepada investor asing sebagai penjabaran dari apa yang disebutnya sebagai ”socialism with Chinese characteristics”. Keputusannya itu sebetulnya adalah perwujudan dari visinya yang diciptakan ketika ia belum memiliki posisi yang kuat, dan mesti dibayar mahal di masa Revolusi Kebudayaan.

Meski sebelumnya memiliki posisi yang cukup tinggi di jaman berkuasanya Mao Zedong, ia bukan hanya kehilangan kekuasaan tapi dipaksa pergi ke sebuah pabrik di Xinjian oleh rezim Mao di jaman Revolusi Kebudayaan menjadi warga biasa sebagai bentuk penebusan atas ide membuat komunis yang produktif. Dalam sebuah konferensi di Guangzho tahun 1961, ia menyatakan tidak peduli apakah seekor kucing berwarna hitam atau putih, sepanjang bisa menangkap tikus, kucing tersebut adalah kucing yang baik. Respon yang baik atas idenya itu di seluruh negeri dan di kalangan partai membuat Mao, yang khawatir nasibnya terancam oleh Deng, meluncurkan Revolusi Kebudayaan di tahun 1966.

Di masa itu, puteranya menjadi lumpuh setelah dilempar dari lantai empat oleh Red Guards. Setelah menjalani masa pengucilan yang cukup lama, Perdana Menteri Zhou Enlai yang sedang sakit-sakitan berhasil meyakinkan Mao untuk menarik kembali Deng di tahun 1974 dan menjadikannya sebagai Wakil Perdana Menteri yang menjalankan pemerintahan sehari-hari. Meskipun sempat dibuang kembali tak lama setelah meninggalnya Zhou Enlai di awal tahun 1976, Deng pelan tapi pasti akhirnya berhasil mengkonsolidasikan kekuasaannya 2 tahun setelah kematian Mao di tahun 1976.

Keputusan Deng untuk keluar dari pakem dunia komunis, menjadikannya sebagai figur tersukses di abad moderen dalam proses revolusi sosial. China yang tadinya adalah negeri agraris diubahnya menjadi sebuah negara industri dan pelan tapi pasti menjadi superpower dunia. Langkah Deng mengubah wajah partai komunis China bukan hanya menginspirasi partai komunis lain di dunia, tapi juga dunia bisnis.

Ini terutama terkait dengan perusahaan yang mengubah core business-nya baik di tingkat dunia maupun di tingkat nasional. Nokia adalah salah satu contoh perusahaan yang tadinya adalah perusahaan pengolahan kayu yang kemudian masuk ke pembangkit listrik dan akhirnya masuk dan mengubah wajah industri telekomunikasi dunia. Sebagaimana yang terjadi pada China di jaman moderen, apa yang dilakukan Nokia mengundang rasa penasaran banyak perusahaan lain apakah bisa mengikuti jejaknya atau tidak.

Tapi apa yang terjadi pada Nokia tidak muncul tiba-tiba. Awalnya Nokia adalah sebuah perusahaan yang sukses di bidang pengolahan kayu dan kemudian merambah kemana-mana. Dalam proses ekspansi tersebut akhirnya terlihat di bisnis mana ia bisa sukses dan sekaligus jadi andalan masa depan perusahaan. 

Inilah yang tampaknya menjadi pertimbangan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) saat mengubah bisnis intinya dari bisnis perkayuan ke petrokimia. Langkah awal yang dilakukan adalah mengubah nama dari PT Barito Pacific Timber menjadi PT Barito Pacific, untuk semakin meyakinkan orang bahwa bisnis intinya telah berubah. Dan BRPT tidak sekedar mengubah nama tapi langsung tancap gas dengan mengakuisisi perusahaan petrokimia PT Chandra Asri beserta anak perusahaannya PT Styrindo Mono Indonesia dan kemudian PT Tri Polyta Indonesia Tbk, yang kebetulan salah satu key founders-nya juga merupakan founder BRPT.

Kebetulan bisnis perkayuan, yang dulu melambungkan founder BRPT ke jajaran papan atas perusahaan Indonesia, kini sedang menghadapi tantangan yang berat. Di dalam negeri, sebagai dampak penertiban illegal logging, perusahaan-perusahaan yang berbahan baku kayu mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku. Sementara di luar negeri, isu lingkungan juga menghadang perkembangan perusahaan-perusahaan berbahan baku kayu.

Ini tentu semakin merepotkan BRPT yang sebetulnya sudah kehilangan 2 unit usaha utama di bisnis perkayuan dengan luas area pengelolaan hutan yang sangat besar sebagai dampak dari krisis 1997-1998. Sehingga kalau terus bertumpu pada bisnis perkayuan, bukan tidak mungkin eksistensi BRPT di masa depan –yang di masa silam dikenal sebagai sebuah perusahaan raksasa Indonesia– akan terancam. Untunglah, ketika melakukan ekspansi di masa lalu, founder BRPT memutuskan untuk masuk ke industri petrokimia yang produk turunannya banyak merupakan barang yang dibutuhkan sehari-hari.

PT Chandra Asri merupakan produsen petrokimia utama Indonesia dan memiliki banyak  produk turunan yang merupakan pemain dominan di industri. Variasi produknya juga lengkap karena perusahaan ini punya olein center dan fasilitas produksi yang mendukung rencana mengukuhkan posisi pasar yang kuat di masa depan. Kalau kelebihan tersebut ditambah dengan kelebihan PT Styrindo Mono Indonesia dan PT Tri Polyta Indonesia, maka posisi Chandra Asri di bisnis petrokimia sulit ditandingi para pesaing.    

Beberapa produknya bahkan sudah punya brand equity yang cukup bagus. Hanya saja, posisi semacam itu tidak menjadi jaminan bahwa PT Chandra Asri akan selalu mencatat penjualan dan laba yang tinggi. Perusahaan ini dan perusahaan petrokimia miliknya sangat sensitif dengan volatilitas harga minyak sebagai sumber bahan baku tidak langsung yang menjelang  pertengahan tahun 2008 sempat mencatat harga tertinggi.

Karena itu, BRPT tidak mau hanya menggantungkan diri pada bisnis petrokimia, tapi mulai menjajaki peluang di sejumlah industri yang mencatat angka pertumbuhan tinggi, mulai dari sektor energi hingga properti. Dengan harga minyak yang bergerak turun dan resesi dunia yang diperkirakan akan bisa teratasi di akhir tahun 2009, sepertinya waktu akan berpihak pada BRPT. Apabila ini yang memang terjadi, bukan tak mungkin jalan BRPT menjadi an aspiring petrochemical based conglomerate akan terbentang lebar.


"Philip Kotler's Executive Class: 57 Days To Go"

==================================================================

Riset untuk artikel ini dijalankan oleh tim MarkPlus Consulting yang dikoordinasi oleh Bayu Asmara, Senior Consultant MarkPlus Consulting.


Hermawan Kartajaya,Taufik

Dapatkan artikel ini di URL:
http://www.kompas.com/read/xml/2009/03/31/0713049/Barito.Pacific:

 

Barito Pacific Plans to Acquire 51% of Star Energy

19 - 08 - 2008
Barito Pacific Plans to Acquire 51% of Star Energy
19-08-08

Barito Pacific Plans to Acquire 51% of Star Energy

By Berni Moestafa

Aug. 19 (Bloomberg) -- PT Barito Pacific, the timber company that controls Indonesia's only ethylene maker, said it plans to buy at least 51 percent of PT Star Energy this year in a transaction that may exceed 5.1 trillion rupiah ($555 million).

Barito wants to add oil and gas to its portfolio, Agustino Sudjono, the company's investor relations manager, said in a telephone interview in Jakarta today. Barito may seek a loan to finance the transaction, he said.

The planned purchase would be Barito's second this year after the company bought 76 percent of PT Tri Polyta Indonesia in June. Jakarta-based Barito, which runs a timber operation on Borneo island, entered the petrochemical industry with the acquisition of PT Chandra Asri in December last year.

``Acquisition is a quick way to boost a company's assets,'' said Lanang Trihardian, an analyst at PT Syailendra Capital in Jakarta. Even so, ``for a company that a year ago was just running a timber operation, the expansion into petrochemicals and oil and gas may be too fast.''

Sudjono said Barito plans to buy oil from Star Energy to maintain a more stable margin amid fluctuating fuel prices. Oil is a raw material for petrochemical products.

Barito's stock rose as much as 2.2 percent to 1,410 rupiah in Jakarta trading. It was at 1,390 rupiah at the noon break.

To contact the reporter on this story: Berni Moestafa in Jakarta at bmoestafa@bloomberg.net

Source: Bloomberg

Barito Pacific Segera Kuasai Star Energy;Nilai Akuisisi Rp 5,1 Triliun

19 - 08 - 2008
Barito Pacific Segera Kuasai Star Energy;Nilai Akuisisi Rp 5,1 Triliun
19-08-08

Barito Pacific Segera Kuasai Star Energy;Nilai Akuisisi Rp 5,1 Triliun

Oleh : Deviana Chuo

 JAKARTA – PT Barito Pacific Tbk (BPRT) terus merambah bisnis baru guna memperkuat kinerja keuangan. Setelah sukses mengambil alih 80% saham Chandra Asri dan saham mayoritas PT Tri Polyta Indonesia Tbk (TPIA) belum lama ini, Barito Pacific secepatnya mengakuisisi lagi saham mayoritas perusahaan minyak dan gas, PT Star Energy. Akuisisi tersebut rampung pada akhir Desember 2008.

“Kami ingin menguasai saham Star Energy atau minimal 51%. Tapi kepastiannya masih dinegosiasikan “ kata Head of Investor Relations Barito Pacific Agustino Sudjono kepada Investor Daily di Jakarta, akhir pecan lalu.

Menurut Agustino total asset Star Energy kini ditaksir mencapai sekitar Rp 10 triliun. Dengan demikian nilai akuisisi 51% saham Star Enegy diproyeksikan sekitar Rp 5,1 triliun.

Sementara itu harga saham Barito Pacific ditutup melemah ke level Rp 1.380 pada 15 Agustus 2008 dari sehari sebelumnya Rp 1.410 per lembar. Nilai transaksinya mencapai Rp 4,2 miliar. Awal tahun ini harga tertinggi saham BRPT berada pada level Rp 2.850 sedang harga terendah Rp 1.150 pada maret 2008.

Agustino menjelaskan, perseroan masih memproses skim pendanaan untuk mengambil alih saham Star Energy. Namun sumber dana melalui penerbitan saham baru (rights issue) belum merupakan pilihan utama. Sebab, kondisi pasar modal kurang begitu baik untuk melaksanakan rights issue.

Komusaris Utama Barito Pacific Prajogo Pangestu pernah mengatakan, perseroan berencana melakukan rights issue lagi tahun ini. Hasil rights issue itu akan digunakan untuk menandai ekspansi perseroan dengan cara mengakuisisi perusahaan.

Star Energy bergerak dalam bisnis energy. Perusahaan didirikan oleh Supranu Santosa pada 2002 yang bekerja sama dengan PT Nusantara Capital. Perseroan memiliki empat wilayah kerja (WK) migas, yakni Banyumas di Cilacap, Jawa Tengah, Sebatik di Tarakan, Kalimantan Timur, Kakap di Natuna, Kepulauan Riau, dan Sekayu di Sumatera Selatan. Selain itu, Star Energy masih mengembangkan proyek panas bumi. Bekerja sama dengan PT Pertamina, Star Energy membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Wayang Windu di Pangalengan, Bandung, Jabar.

Perusahaan Raksasa


Sementara itu, pengamat pasar modal David Cornelis menilai, akuisisi akan menjadi katalis bagi Barito Pacific pada masa mendatang. Bahkan perseroan berpotensi kembali menjadi perusahaan raksasa ketika menggeluti bisnis inti kayu. Meskipun saat ini perseroan telah mengalihkan bisnis utama kepada sektor lain.

Namun, lanjut David, Barito Pacifik sebaiknya tidak begitu gencar mengambil alih sejumlah perusahaan baru supaya tidak tumpang tindih satu sama lain. Sebab, perseroan harus mempunyai strategi khusus dalam menjalankan akuisisi beberapa perusahaan yang berbeda. Menurut dia, lebih baik perseroan mengakuisisi perusahaan yang memiliki usaha sejalan dengan bisnis inti yang dikembangkan saat ini “Jika tidak, akuisisi tersebut akan menjadi kurang efektif dan efesien. Yang penting satu-satu, tapi kontribusinya terhadap pendapatan Barito Pacific cukup signifikan dan benar-benar ikut mendukung pertumbuhan kinerja keuangan,” tandas dia.

Pendapat senada di ungkapkan analis Paramitha Alfa Sekuritas Gina Novrina Nasution. Dia mengatakan, akuisisi pada sejumlah bidang usaha berdampak positif terhadap perseroan. Namun, manajemen Barito Pacific harus melihat strategi kedepan.

Dia mencontohkan, Barito Pacific dapat mengambil alih perusahaan yang sanggup memproduksi bahan dasar yang pada akhirnya didistribusikan oleh perseroan. Kebijakan ini bakal mendukung peningkatan laba bersih dari anak usaha yang bersangkutan. ”Jadi, tidak perlu perusahaan lain, kalau anak-anak usaha berkaitan, itu jauh lebih baik,” ujar Gina.

Dia mengakui, akuisisi Star Energy bakal berdampak baik bagi perseroan. Apalagi prospek bisnis energi masih  cerah. Aksi korporasi itu diperkirakan mampu menopang harga saham BRPT.

David Cornelis menambahkan, alternatif terbaik untuk pendanaan akuisisi Star Energy adalah pinjaman bank atau lembaga keuangan lain. Soalnya, DER perseroan masih relatif rendah “Probabilitas pinjaman lebih besar, dengan gearing (DER) rendah dan posisi cash yang relatif bagus,” kata David. Dia menargetkan, harga saham BRPT berpeluang menuju Rp 2.300 hingga akhir tahun 2008.

Guna mengambil alih 80% saham Chandra Asri, Barito Pacific menerbitkan saham baru senilai Rp 9,16 triliun. Sedangkan nilai akuisisinya mencapai Rp 9,77 triliun.

Menurut Agustino Sudjono opsi terbaik untuk pendanaan adalah pinjaman bank. Apalagi rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) Barito Pacific tergolong rendah, yakni 0,5 kali “Opsi terbaik adalah pinjaman, kalau opsi lain akan dilihat kondisinya, Namun emisi obligasi juga tetap dikaji,” tandas dia.

Jika akusisi Star Energy bisa selesai pada akhir Desember 2008, kata dia, aset baru dapat di konsolidasikan pada neraca keuangan Barito mulai kuartal I-2009.

Selain mencaplok Chandra Asri, Barito Pacific telah mengakuisisi Tri Polyta Indonesia. Akuisisi dilakukan melalui pembelian langsung 64,65% saham Newport Global Invesment Ltd (NGI) dan 11,30% saham Prajogo Pangestu senilai US$ 136,46 juta atau Rp 1,25 triliun. Disamping itu, perseroan memiliki 1,97% saham TPIA Rp 32,87 miliar melalui penawaran tender.

Dana pembelian saham Tri Polyta bersumber dari hasil penerbitan surat utang tanpa jaminan (unsecured notes) senilai US$ 200 juta. Surat utang itu dibeli oleh Magna Resources Corporation Pte Ltd (MRC) dan ditangani UBS AG cabang Singapura.

Guna memperkuat kinerja keuangan, perseroan juga membeli 10% saham PT Gozco Plantation Tbk (GZCO). Saham tersebut dibeli melalui penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham Gozco pada Mei 2008.

Komisaris Barito Pacific Anton BS Hudayana sebelumnya mengatakan , perseroan berupaya melebarkan usaha ke pertambangan dan perkebunan, selain sektor properti dan petrokimia. Oleh sebab itu, perseroan tidak akan berhenti hanya mengakuisisi Chandra Asri dan Tri Polyta.

Sumber: Investor Daily, 19 Agustus 2008

Croc, Tyvek, Yupo, dan P2

07 - 07 - 2008
Croc, Tyvek, Yupo, dan P2
07-07-08

Croc, Tyvek, Yupo, dan P2

Oleh: Lie Charlie (Pegawai Swasta di Bandung)

Bukan main ada sandal dan sepatu sandal terbuat dari plastic, made in USA, dijual dengan banderol Rp 300-ribuan sepasang di toko mewah, dan laku. Plastik ternyata tidak murahan dan tak selalu buatan Taiwan. Kalau anda tidak memakai Croc warna oranye menyala atau ungu jreng saat jalan-jalan di mal, Anda enggak gaul. Coba perhatikan kaki-kaki nona-nona disekitar Anda, jangan-jangan banyak kaki kini juga mengenakan sandal atau sepatu yang seluruhnya terbuat dari plastik. Tengok pula benda-benda di sekitar kita, sebagian besar benar terbuat dari plastik: sikat gigi, sisir, gayung, pot tanaman, keyboard komputer, figur resin Superman pajangan kesayangan kita di atas meja, bingkai foto, rangka kacamata, tas kosmetik, aneka jenis kemasan sampo, dll.

Pada waktu yang sama, Negara penghasil Croc, Amrik (AS), juga gencar mengampanyekan pengurangan bahan plastik, termasuk kantong plastik yang biasa kita pakai sehari-hari. Sudah berulang kali VOA (Voice of America) dalam siaran Metro TV mengajak kita meninggalkan kantong plastik dan memakai kantong kertas demi menyelamatkan alam. How come memakai kantong kertas sebagai ganti kantong plastik bisa menyelamatkan the mother nature? Apa tidak terbalik?

Barangkali disini terjadi salah paham dan beda pengalaman. Negara maju melihat ekplorasi alam-umpamanya penebangan hutan pinus untuk di olah menjadi kertas-bukan masalah, sebab ada kewajiban menanam kembali sepuluh pohon setiap satu batang pohon ditebang. Hutan akan tetap lestari untuk anak cucu, seperti sudah dipraktikan Amerika dan Finlandia (salah satu eksportir kertas terbesar didunia). Sebagai Negara beradab kita juga sudah mencanangkan kebijaksanaan yang sama. Sayangnya, dana US$10 untuk reboisasi yang wajib dibayarkan pemegang HPH atas penebangan tiap meter kubik, ternyata tidak dimanfaatkan secara besar. Dana itu malah dipinjamkan kepada pihak ketiga untuk urusan yang tidak ada hubungannya dengan penghutanan kembali tanah gundul.

Tentu saja, jika melihat dari sudut pandang positif, kampanye mengurangi pemakaian kantong plastik tetap ada baiknya. Namun bagi banyak orang awam, kampanye ini kurang beralasan. Lagi pula, bagi masyarakat disini yang pada umumnya relatif perlu hidup ekonomis, kantong kertas jelas lebih mahal ketimbang yang plastik. Maka menjadi tidak jelas siapa yang di untungkan dan siapa yang dirugikan dalam hal ini? Siapa yang memelihara alam dan siapa yang merusaknya?

Alangkah Bergunanya Plastik

Seharusnya kita jangan terlalu lekas meneruskan propaganda pihak luar negeri mengenai suatu isu. Plastik umpamanya, digembar-gemborkan merusak lingkungan dan serta merta kita ikut mengutuk penggunaan kantong plastik. Styrofoam (salah satu bahan kemasan, termasuk sebagai wadah makanan) disebut-sebut mengandung kanker dan kita langsung percaya tanpa melakukan penyelidikan sendiri lebih lanjut. Kita juga sangat bernafsu kembali memakai bahan-bahan alamiah, seperti daun pisang, bambu, rotan atau kayu.

Plastik memang sulit di uraikan. Contoh yang sering dikemukakan adalah bahwa plastik yang tidak akan hancur biarpun sudah dikubur dalam tanah selama seratus tahun. Anggap saja kenyataan itu benar, tetapi juga benar bahwa plastik itu juga dapat didaur ulang, sehingga tidak perlu dikubur dalam tanah. Kantong plastik (jenis yang lebih popular disebut kantong “kresek” sebab berbunyi kresek-kresek jika dikucek) warna hitam, misalnya, adalah hasil daur ulang dari bahan plastik bekas. Semua barang plastik berwarna hitam hampir pasti terbuat dari bahan plastik hasil daur ulang.

Pemakaian bahan alamiah memang bagus juga, tetapi bukankah gerakan ini justru berpotensi mendorong perusakan alam? Coba lihat gaya hidup orang Jepang yang menggunakan sumpit “sekali pakai buang”. Berapa banyak kayu habis untuk dibuat sumpit dalam setahun? Hanya karena Jepang kaya dan mampu membeli, mereka tidak dikritik. Bila kita menerima kiriman barang dari Eropa dan Amerika, coba juga perhatikan bukankah peti kemasnya juga menggunakan kayu yang cukup berkualitas? Tidakkah membingungkan, pada suatu kesempatan kita diminta berpartisipasi memelihara lingkungan, namun pada sisi lain pihak luar menghambur-hamburkan bahan alamiah terbaik.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan plastik, selama kita tahu memanfaatkanya dengan benar, bukan menguburnya dalam tanah. Plastik berasal dari residu bahan bakar minyak dan dapat didaur ulang. Melalui penerapan teknologi yang tepat, plastik dapat diolah menjadi beberapa karakter mulai dari PP (polypropylene) yang rigid atau kaku sampai PE (polyetbelene) yang agak lunak, termasuk menjadi PVC (poly-vinyl cbloride) dan lem (polyvinyl acetate). India bahkan sedang mengembangkan komposit plastik dan aluminium guna dipakai menjadi bahan bagian badan (body) mobil.

Antisipasi Bisnis P2

Hanya P2, Prajogo Pangestu, yang pintar. Perhatikan langkahnya masuk ke Chandra Asri yang memproduksi olefin, bahan baku industri plastik. P2 tahu masa depan Barito Pacific Timber yang mengeksploitasi kayu sebagai mata dagangan tidak terlalu cerah lagi, sejalan dengan semakin berlikunya prosedur yang harus ditempuh guna memperoleh hak pengelolahan atau penebangan hutan ditengah isu pelestarian lingkungan.

Pada masa yang akan datang, plastik akan semakin merajai. Semakin banyak barang yang dibuat dari plastik atau bahan dasar plastik. Teknologi pun bakal berusaha menggabungkan plastik dengan bahan lain untuk membentruk komposit baru sesuai kebutuhan. Plastik akan dapat diolah menjadi bahan yang semakin lunak atau semakin kaku. Mulai dari tas, sarung telepon seluler, sampai tali bra. Dan bila kelak sudah ditemukan plastik atau komposit plastik yang tahan panas serta tahan gores, barangkali bahan tersebut dapat di aplikasikan sebagai genting atau bagian badan pesawat terbang.

Sekarang pun sudah ada industri yang mengolah bahan dasar plastik menjadi sejenis kertas. Kita bisa menemukan “kertas” dengan merk dagang Tyvek (dari Dupont) atau Yupo beredar dipasar. Uniknya, bahan semacam Tyvek atau Yupo memiliki sekaligus sifat-sifat kertas, kain dan plastik. Bahan sintetik ini dapat ditulisi, dicetak offset, tidak mudah sobek, dan tahan air pula. Cocok untuk dibikin spanduk, bendera dipadang golf, atau dicetak menjadi buku anak-anak dan menu restoran karena jika basah bisa dilap. Bahwa Tyvek atau Yupo masih jarang dipergunakan orang, mungkin cuma lantaran harganya jauh lebih mahal dibandingkan kertas, kain atau plastik konvensional, dan promosinya memang kurang gencar.

Plastik memang punya beberapa kelemahan, seperti kurang kuat atau tidah mudah terurai, tetapi tetap lebih banyak manfaatnya dari pada saudaranya. Dan karena plastik memang dapat didaur ulang--bukan tidak dapat didaur ulang seperti  informasi yang disebarkan kepada masyarakat selama ini, melainkan hanya sulit hancur atau tidak dapat kembali ke wujud asal sebagai residu minyak—akan muncul industri-industri yang melakukan pekerjaan itu. Bukan ada maksud apa-apa namun tidak salah juga apabila setelah membaca tulisan ini Anda terdorong membeli saham Barito Pacific lebih banyak sejak sekarang. Harga nya memang cenderung naik dan akan terus naik.

Sumber: Majalah Trust, 7 Juli 2008
 

Barito Pacific Telah Alihkan Fokus Bisnis; Akuisisi untuk Naikkan Pendapatan

20 - 06 - 2008
Barito Pacific Telah Alihkan Fokus Bisnis; Akuisisi untuk Naikkan Pendapatan
20-06-08

Barito Pacific Telah Alihkan Fokus Bisnis; Akuisisi untuk Naikkan Pendapatan

Jakarta – PT Barito Pacific Tbk akan menerbitkan surat utang senilai 200 juta dollar AS untuk mengakuisisi 75,95 persen saham Tri Polyta dan melakukan tender offer atas 24,05 persen sisa saham Tri Polyta.

Nilai akuisisi 75,95 persen saham Tri Polyta milik Newport Global Investment dan Prajogo Pangestu itu mencapai 11,27 triliun rupiah atau 2,289 rupiah perlembar saham.

Wakil President Investor Relation Agustino Sudjono mengatakan surat utang yang diterbitkan oleh UBS Singapura itu diminati oleh Magna Resources Corporation Pte Ltd. Surat utang bertenor tiga tahun itu menawarkan bunga 11 persen per tahun.

Try Polyta merupakan produsen polypropylene terbesar di Indonesia. Kapasitas produksi pabriknya 360 ribu – 380 ribu ton. Perusahaan akan meningkatkan lagi kapasitasnya sebesar 100 ribu ton.

“Masuknya Tri Polyta ke tubuh Barito diperkirakan dapat mengdongkrak pendapatan perusahaan sekitar 25 – 30 persen,” katanya, Kamis (19/6).

Tahun lalu, Barito telah mengakuisisi PT Chandra Asri yang memproduksi olefin, bahan baku pembuat plastik. Olefin adalah produk turunan pertama dari naptha. Namun, kenaikan harga minyak bumi yang disusul oleh naptha membuat beban Chandra Asri melonjak dan merembet ke perusahaan induk.

Kontribusi Keuntungan


Chandra Asri menyumbang 98 persen dari pendapatan Barito. Sehingga kuartal I-2008, Barito mengalami kerugian hingga 20 kali lipat dibanding kuartal I-2007. Kerugian perusahaan melonjak menjadi 183,19 miliar rupiah, padahal pendapatan melesat hingga 4,38 triliun rupiah.

Untuk mengantisipasi lonjakan bahan baku, Chandra Asri menaikkan harga jual produksinya sebesar 10 – 15 persen. Bisnis Petrokimia memberikan kontribusi sebesar 98 persen dari pendapatan, sementara bisnis kayu hanya 2 persen. Sulitnya mencari bahan baku dan kenaikan BBM memaksa pengelola 110,32 hektar HTI ini mengurangi kegiatan anak usahanya PT Tunggal Agathis Indah Wood Industries.

Sementara di industri plastik yang mengosumsi produk petrokimia, Direktur PT Dynaplast Tbk Andi Hartanto, mengeluhkan kenaikan harga bahan baku karena tidak bisa menaikan harga jual produknya sembarangan.

“Lonjakan harga minyak membuat bahan baku meningkat, tetapi pengusaha tidak bias menaikan harga jual seenaknya,” katanya.   

Sejak Januari, harga bahan baku plastic polypropylene telah menanjak 35 persen dan polytilene naik  20 persen. Perusahaan tersebut mendatangkan bahan baku dari dalam dan luar negeri.

Terkait dengan kenaikan harga itu, Dynaplast berniat mengubah perjanjian harga dengan konsumen. Selama ini perjanjian dengan pelanggan dilakukan setiap tiga bulan sekali. Sehingga jika harga bahan baku meningkat terus menerus perusahaan akan merugi karena harga yang dipakai adalah harga kuartal sebelumnya. (Xax/E-7)

Sumber: Koran Jakarta, 20 Juni 2008